Sejak dimulai pada 2021 lalu, Proyek Strategis Nasional (PSN) Food Estate di Desa Pilang, Kecamatan Jabiren Raya, Kalimantan Tengah, masih menyisakan tanda tanya mengenai keberhasilannya. Panen raya yang selama ini dinanti para petani setempat, tak kunjung tiba.
—
Abun (62) masih dibayangi penyesalan ketika mengingat proyek food estate yang masuk ke desanya tiga tahun lalu. Warga Desa Pilang, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau itu merasa kecewa karena lahan sawah pribadinya seluas satu hektare yang menjadi bagian dari proyek tersebut tidak menghasilkan panen.
Padahal, ketika food estate dimulai pada Oktober 2021, Abun berharap proyek ini membuka kembali peluang kesejahteraan seperti saat ia masih berladang dengan sistem tugal tebas-bakar.
Dengan keyakinan tersebut, Abun setiap pagi berangkat menggunakan ces (perahu bermesin) menuju sawahnya yang berjarak 10 menit dari rumah. Rutinitas ini dijalaninya hampir setiap hari sejak Oktober 2021 ketika masa tanam dimulai. Ia hanya libur saat benar-benar merasa lelah.

Abun mengandalkan lahan tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. “Awalnya saya berpikir hasilnya akan bagus, tapi ternyata tidak ada hasil. Tenaga, modal, waktu habis,” ungkapnya lirih.
Di rumah, Abun adalah satu-satunya laki-laki. Anaknya perempuan, sementara istrinya menjalankan usaha warung kecil di rumah. Mengurus lahan menjadi tanggung jawabnya seorang diri.
Saat rencana panen yang dijadwalkan pada Februari 2022 tiba, Abun terkejut mendapati kenyataan bahwa tidak ada hasil sama sekali.
“Gesan bepupur muha gin mun digiling kada cukup (Untuk dijadikan bedak muka waktu digiling pun tidak cukup),” ungkapnya getir, mengungkapkan kekecewaannya.
Alih-alih berhasil, lahan yang diharapkan dapat menopang kebutuhan keluarga justru tidak menghasilkan apa pun.
“Saya dari dulu memang senang mengurus tanah dan berkebun. Dulu itu sempat bagus tumbuhnya padi,” katanya mengenang masa-masa awal program tersebut. Namun, harapannya pupus karena padi yang ditanam tidak berisi, dan sebagian lagi diserang hama tikus.

Kecewa dengan hasilnya, Abun akhirnya memutuskan berhenti bertani dan beralih mencari nafkah dengan menyadap karet dan menyedot pasir.
“Sudah cukup sekali saja menanam, tidak lagi. Sekarang tinggal nyadap karet dan menyedot pasir sesekali kalau ada panggilan,” tegasnya.
***
Kesulitan bertani di lahan food estate Pilang tidak hanya dialami oleh Abun; kisah serupa juga dialami Mina (58), petani perempuan yang turut menanam padi di lahannya. Keterbatasan tenaga menjadi kendala utama bagi Mina dalam menggarap lahan.
Sebagai peladang tradisional yang terbiasa ‘melingai’ atau membersihkan lahan pasca-panen dengan cara membakar, kini ia harus mengeluarkan tenaga lebih untuk melakukan penyemprotan gulma atau menebang rumput liar.
“Pakai mesin di sini belum bisa, tanahnya dalam,” jelasnya, menandakan bahwa keberadaan IPTEK belum sepenuhnya diaplikasikan di lahannya.
Kebingungan Mina tidak hanya karena ia mengalami satu kali gagal panen; ia telah mengalaminya berulang kali sejak pembukaan lahan food estate pada 2021. Pada Maret 2023, Mina dan suaminya menggarap lahan seluas lima borongan dan hanya menghasilkan sekitar 250 kilogram beras.
Dibandingkan ketika berladang, satu borongan lahan dapat menghasilkan sekitar 10-15 blek gabah beras basah. Ditambah lagi, posisi lahan yang lebih rendah membuat benih dan tanaman padi yang sudah tumbuh terbawa arus saat air pasang.
Awal tahun ini, sekitar Februari, Mina kembali mencoba menanam padi. “Tahun ini kami coba sedikit saja, 10 borongan. Tapi, tetap tidak ada hasil,” ujarnya heran.
Harapan Mina sewaktu menanam tidak muluk-muluk, hanya untuk memenuhi kebutuhan dapur agar tidak boros. Beruntung, keterampilan menganyam rotan membantu Mina menambah penghasilan, meski tidak setiap hari bisa dilakukannya karena sulitnya akses mendapatkan rotan.
“Kalau mau ambil rotan itu harus masuk ke dalam hutan,” katanya. Sambil menunggu sawahnya bisa menghasilkan, Mina menanam pisang, singkong, keladi, dan daun katuk di pematang sawahnya.
“Kami tanam di pematang sawah, untuk kebutuhan rumah saja. Di sini jarang ada pedagang sayur, baru lewat tiga hari sekali,” ucapnya. Saat ditanya apakah akan menanam padi lagi tahun depan, Mina tidak memberikan jawaban pasti.
Petani awalnya merasa optimistis karena ada harapan untuk kembali merasakan kemakmuran seperti saat berladang. Namun, kenyataannya, hasil program ini jauh dari harapan.
Aktivitas berladang di Pilang terhenti sejak diterapkannya larangan membakar lahan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 71 tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lahan Gambut. Larangan ini membuat kehidupan petani semakin sulit karena mereka kehilangan cara mendapatkan pangan mandiri dan produktivitas tanaman padi menurun drastis.
Randani (35), Ketua Kelompok Tani Parit Pemerintah yang terbiasa berladang dengan sistem tradisional, mengakui bahwa perubahan pola dari ladang tradisional ke pertanian sawah adalah tantangan besar. “Tugal dulu itu tahapannya tidak banyak, beda dengan tani sawah sekarang,” ungkapnya.
Bahkan hingga kini, Randani dan petani lainnya masih berusaha menyesuaikan diri. Ia mengingat betul bagaimana benih padi yang ditanamnya tidak bisa menancap sempurna karena air terlalu dalam di tanah.
Salah Kaprah Proyek Food Estate di Pilang
Program food estate di Desa Pilang dimulai dengan skema ekstensifikasi lahan, di mana pemerintah membuka lahan baru untuk memulai kegiatan pertanian.
Setahun sebelum proyek ini digeber, lahan-lahan milik warga mulai dibuka di bawah komando pasukan TNI. Alat berat digunakan untuk meratakan hutan gambut yang kaya dengan beragam pepohonan.

Tak lama setelah pembukaan lahan, bantuan alat mesin pertanian (alsintan), pupuk, benih, dan kapur mulai datang ke Pilang.
Ada 400 hektare lahan yang berhasil dibuka untuk memuluskan program ini dari target awal 1.050 hektare. Sisanya, 650 hektare, direncanakan akan dibuka pada tahap berikutnya, meskipun belum ada kabar pasti kapan itu dilaksanakan.

Rusdi, Kepala Desa yang juga Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Pilang, mengatakan bahwa awalnya terbentuk 17 kelompok tani dalam SK, tetapi karena pembukaan lahan tidak sepenuhnya dilakukan, hanya 11 kelompok yang ikut berpartisipasi menanam.
Meskipun food estate bertujuan mengatasi ancaman krisis pangan, proyek ini dinilai tidak cocok diterapkan di Pilang karena tanah di sana adalah lahan rawa gambut.
World Resources Institute (WRI) menyebut kawasan Pilang sebagai no-go zone, yaitu lahan yang semestinya dihindari untuk pengembangan food estate. Hasil verifikasi citra satelit menunjukkan pembukaan lahan cetak sawah di Pilang dilakukan di kawasan no-go zone, di atas hutan rawa sekunder.

Pada periode Januari-Oktober 2022, Desa Pilang menduduki urutan ke-4 dari sepuluh desa dengan kehilangan tutupan pohon terbesar di Kalimantan Tengah, mencapai 137 hektare.
“Idealnya gambut sebagai ekosistem esensial dengan fungsi hidrologis penting harus dijaga, bukan malah dieksploitasi,” tegas Wahyu Perdana, Manajer Advokasi dan Kampanye Pantau Gambut.
Menurutnya, kelalaian dalam mengelola lahan gambut yang terlihat dari pembukaan lahan food estate ini membahayakan keberlangsungan ekologis di kemudian hari. “Kalau sudah rusak (gambutnya), rentan terjadi kebakaran dan kebanjiran,” ujarnya.
Manajer Pengorganisasian dan Wilayah Kelola Rakyat Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Tengah, Igo Dohoi, menilai bahwa menjadikan lahan food estate sebagai lahan pertanian dengan fokus pada satu komoditas padi adalah keputusan keliru.
“Sejak awal, Walhi Kalteng sudah terang-terangan menolak kehadiran food estate yang mengesampingkan kepentingan masyarakat luas,” katanya.
Igo menambahkan, perhitungan ketahanan pangan nasional melalui proyek food estate dengan rancangan yang prematur–di mana pelaksanaan proyek beriringan dengan KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis)–berpotensi membawa dampak serius.
“Tujuannya adalah ketahanan pangan, tapi bayangkan jika nanti terjadi krisis pangan dan sumber utamanya, nasi, juga hilang. Mau makan apa kita?” ujarnya.
Akibat rancangan yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan dan eksekusi yang keliru, hasil panen padi tidak maksimal, seperti yang dialami oleh Abun dan Mina.
Padahal, jika merujuk pada dokumen grand design food estate tahun 2020 di Kalimantan Tengah, petani diproyeksikan untuk menjadi bagian dari korporasi petani atau unit usaha tani. Artinya, petani memegang peranan kunci dalam menyukseskan proyek ketahanan pangan ini.
Yayasan Betang Borneo Indonesia (YBBI), NGO yang telah mendampingi masyarakat Pilang sejak 2021, menyayangkan keputusan pemerintah yang dinilai tidak mempertimbangkan kearifan lokal, khususnya dalam cara bertani masyarakat setempat.
Sevana Dewi, Project Manager YBBI, menjelaskan bahwa sejak terhentinya aktivitas berladang oleh masyarakat, Desa Pilang masuk dalam kategori desa rawan pangan.
“Sekarang banyak jenis pangan lokal yang hilang. Kami melihatnya sebagai ancaman bagi ketahanan pangan,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Pilang, Rusdi, juga mengakui keterbatasannya untuk bertindak dalam proyek food estate ini.
“Kami berusaha mendorong agar petani mendapatkan pendampingan intens dan dukungan infrastruktur yang memadai,” ujarnya.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Pilang, Herlina, menerangkan bahwa masalah tidak optimalnya lahan food estate bukan hanya karena ketidaksiapan petani, tetapi juga kendala eksternal seperti banjir.
“Waktu awal tanam, banjir datang. Alat-alat pertanian tenggelam, tidak bisa beroperasi. Sawah-sawah juga ikut tenggelam,” keluh Herlina, yang telah mengabdi selama 12 tahun di Desa Pilang.

Herlina menambahkan, kegagalan panen yang dialami petani memang wajar terjadi selama tiga tahun awal program food estate.
“Semuanya butuh proses, tidak bisa langsung berhasil,” katanya. Ia bahkan membandingkan dengan Desa Belanti Siam, yang membutuhkan lebih dari 10 tahun hingga pertanian mereka mulai menghasilkan.
“Orang transmigran di Belanti Siam itu saja perlu waktu lebih dari 10 tahun sampai padinya berhasil,” ungkapnya.
Tidak optimalnya proyek food estate di Pilang juga sering dikaitkan dengan masalah irigasi yang belum memadai. Oleh karena itu, pada Agustus lalu, dilakukan optimasi lahan (Oplah) dengan meninggikan tanggul.
Menteri Pertanian memberikan arahan langsung kepada personel tentara untuk memperbaiki sistem pengairan ini. “Harapannya, dengan Oplah, airnya jadi teratur dan pertaniannya juga lancar,” ujar Herlina.
Namun, ia tidak berkomentar lebih jauh tentang Oplah untuk menunjang proyek tersebut karena tidak terlibat langsung. “Oplah itu adalah perbaikan irigasi di sana. Untuk detailnya, saya kurang tahu. Semuanya diurus pusat,” katanya.
Harapan di Tengah Keterbatasan
Di tengah kegagalan panen yang kerap dialami petani Pilang akibat serangan hama—seperti tikus, burung pipit, dan wereng—serta kendala pengairan dan penyesuaian benih, masih ada yang tetap bertahan mencoba peruntungan di lahan food estate.
Satu di antara belasan kelompok yang bertahan adalah Parit Pemerintah. Di lahan food estate, mereka masih mencoba untuk menanam padi dan komoditas lain.
Ramlah (42), salah satu petani yang masih optimis, mengungkapkan alasannya tetap bertahan mengelola lahan di saat banyak petani lain mulai menyerah. “Hasil sendiri dengan beli itu beda rasanya,” ujarnya sederhana.

Sejak lahannya dibuka melalui proyek food estate, Ramlah tak pernah absen menanam padi, baik varietas unggul maupun lokal. Meski demikian, tantangan berupa gagal panen masih sering dihadapi, baik karena serangan hama maupun kendala pengairan.
Bue Emek, petani lainnya juga mengungkapkan hal serupa. Emek kembali mencoba peruntungannya dengan lahan sawah yang ia miliki setelah belasan tahun berhenti berladang.
Setiap hari ia bersama istrinya rutin mengelola ladang padi dan kebun karet. Meski penghasilan dari bertani belum pasti, Emek tetap berharap dari kebun karet yang ia andalkan sebagai sumber pendapatan utama keluarga.
“Karet itu satu bulan bisa saja dapat satu pikul (100 kilogram). Kalau harga bagus, bisa sampai sembilan ribu rupiah per kilogram,” jelasnya.
Emek tidak memaksimalkan seluruh lahannya untuk padi. Dari total satu hektar yang dimiliki, hanya setengah yang digarap, sementara sisanya ia biarkan untuk dicoba nanti. Di pematang sawah, ia menanam sayuran dan buah-buahan.
“Sekarang sudah tua, jadi fokus ke lahan saja. Nyaman juga di sini, semua ada. Beras aja kami yang masih beli,” kilahnya.
Keberhasilan tetap bertahan yang ditunjukkan oleh kelompok tani Parit Pemerintah, yang menurut ketuanya, Randani (48), aktifnya para anggota menjadi kunci sukses. Baginya, kekompakan dalam menanam sangat penting untuk mengatasi serangan hama.
“Kalau menanamnya beimbaian (serempak), hama-hama ini terbagi juga, tidak menyerbu satu lahan saja,” jelasnya.
Meski demikian, Randani mengakui menjaga semangat petani tidak mudah, terutama setelah mengalami gagal panen. “Waktu gagal panen itu pasti semangat kami turun. Tapi, masih mencoba saja, siapa tahu berhasil,” ujarnya.
Herlina, selaku PPL pun, turut mengakui naik-turunnya semangat petani. Meski sosialisasi dan pendampingan rutin dilakukan, keputusan untuk bertahan atau tidak sepenuhnya bergantung pada para petani.
“Kami di sini mendampingi, artinya yang benar-benar menjalankan pertanian adalah mereka. Kalau ada yang berhenti bertani, semoga setelah melihat hasil petani lain, mereka tertarik kembali,” harapnya.
Upaya petani Pilang untuk tetap menggarap lahannya juga didukung oleh adanya konservasi orangutan yang dikelola Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) dan Citra Borneo Indah (CBI) Group sejak 2016 di Pulau Salat Nusa. Namun, baru sejak 2021, setelah lahan sawah terbuka karena food estate, transaksi jual-beli hasil kebun mulai berjalan.
Kerja sama ini dilakukan antara BUMDes Pilang dan pengelola konservasi untuk memasok makanan bagi orangutan, seperti pisang, labu, tebu, dan timun, yang disuplai dari kebun para petani di Pilang.
Ramlah, yang rutin menjual hasil kebunnya, mengaku pendapatan dari berkebun cukup membantu. Hasil sayuran atau buah-buahan yang ia tanam dihargai lima ribu rupiah per kilogram.
“Lumayan, satu kali panen tebu kemarin saja bisa dapat 7 kilogram, pisang satu tundun bisa sampai 10 kilogram,” katanya.
Berkat penghasilan tambahan dari berkebun, ia berhasil mengajak suaminya yang sebelumnya kurang tertarik menjadi lebih aktif membantu.
“Abahnya dulu kada ketuju betanam seperti ini, lebih baik meiwak jar. Tapi, habis melihat hasilnya, mulai senang abahnya,” jelas Ramlah.
Meski sudah menikmati hasil dari kebun, Ramlah belum puas. Ia masih ingin mencoba keberuntungannya menanam padi lagi.
“Uang hasil kebun ini diputar saja untuk kebutuhan rumah dan disisihkan sedikit gesan (untuk) modal nanam banih (benih padi),” ujarnya.