Lewat Bioskop Bisik, Forum Sineas Banua Hadirkan Sinema yang Lebih Inklusif

Jurnalis: Musa Bastara

Forum Sineas Banua (FSB) kembali menggelar pemutaran film di Wetland Square, Banjarmasin, Jumat (15/3). Malam itu, puluhan orang duduk rapi, menunggu layar besar di hadapan mereka menyala. Tapi suasana berbeda dari biasanya. Beberapa penonton mengenakan earphone, sementara yang lain memperhatikan gerakan tangan seorang juru bahasa isyarat di samping layar. Mereka yang hadir tak hanya datang untuk menonton, tapi juga merasakan sesuatu yang selama ini sulit mereka akses.

Film mulai diputar. Dari earphone, terdengar suara narasi yang menceritakan apa yang tampak di layar—gerakan aktor, perubahan ekspresi, suasana latar. Seorang pria tunanetra menyimak dengan saksama, sesekali tersenyum. Di sisi lain, seorang perempuan tunarungu mengikuti alur cerita melalui juru bahasa isyarat yang menerjemahkan dialog ke dalam gerakan tangan yang lincah. Malam itu, film akhirnya bisa dinikmati semua orang.

bioskop bisik

Bertajuk Layar Film Banjar Inklusif: Bioskop Bisik, acara ini menjadi upaya Forum Sineas Banua untuk menghadirkan pengalaman menonton yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas. Edo, penanggung jawab acara, mengingat kembali bagaimana ide ini muncul. “Tahun ini, kami datang dengan konsep baru dengan penambahan kata Inklusif itu,” katanya.

Sejak 2018, Layar Film Banjar menjadi ajang apresiasi bagi sineas lokal. Namun, selama ini, belum banyak yang memikirkan bagaimana penyandang tunanetra dan tunarungu bisa menikmati film. Edo dan timnya mencoba menjawab tantangan itu dengan mengadaptasi konsep Bioskop Bisik, yang sebelumnya telah dilakukan di beberapa kota besar, termasuk Jakarta.

Sebelumnya, metode Bioskop Bisik mengandalkan pendamping yang membisikkan deskripsi adegan kepada penonton tunanetra. Namun, Edo melihat ada kendala. “Yang semula tunanetra didampingi pembisik yang menjelaskan adegan film, kali ini tidak,” ujarnya. Gaya tutur tiap pendamping bisa berbeda, terkadang terlalu lambat atau terlalu cepat.

Untuk mengatasinya, mereka merekam narasi audio terlebih dahulu dan menyempurnakannya dengan teknologi AI agar lebih selaras dengan film yang diputar. Sementara bagi penonton tunarungu, kehadiran juru bahasa isyarat memastikan mereka bisa memahami dialog tanpa bergantung sepenuhnya pada teks.

Di sela pemutaran film, lokakarya Inklusinema digelar. Adel Ananda berbicara tentang bahasa isyarat, sementara Munir Shadikin menjelaskan bagaimana teks dan audio deskripsi disusun dalam film. Sineas-sineas muda yang hadir menyimak dengan serius, beberapa di antaranya mencatat ide-ide baru. “Jadi kami sharing apa yang dikerjakan. Terlebih lagi ada 40 sineas di Kalsel yang kami undang. Kami ingin mereka sadar untuk membuat film yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas,” kata Edo.

Menjelang akhir pemutaran, ekspresi para penonton menjadi bukti bahwa upaya ini tidak sia-sia. Mereka yang sebelumnya kesulitan menikmati film kini bisa merasakan alur cerita dengan cara mereka sendiri. Ada yang tertawa, ada yang terharu. Edo memperhatikan salah satu penonton tunanetra yang terlihat begitu terhanyut dalam cerita. Ia tersenyum puas. “Kami melihat sendiri bagaimana mereka merespons film. Mereka tertawa, marah, terharu. Rasa lelah langsung tergantikan,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *