Kabar Baik, Kalsel Raih Peringkat 14 Indeks Daya Saing Digital

Provinsi Kalimantan Selatan tercatat sebagai daerah yang berpeluang untuk pengembangan ekonomi digital. Kemajuan yang positif ini setidaknya ditunjukkan dalam laporan riset Digital Competitiveness Index yang dilakukan East Ventures yang dirilis awal tahun 2020 ini.

Dalam laporan itu, terungkap bahwa indeks daya saing digital di daerah berjuluk Bumi Lambung Mangkurat ini berada di urutan 14 nasional dengan skor 30,7. Meski kalah dengan provinsi tetangga seperti Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Kalsel berhasil menyabet 15 besar peringkat indeks, dari 34 provinsi di Indonesia.

East Ventures mengungkap, terdapat sejumlah indikator untuk menilai skor tersebut. Diantaranya, penggunaan dan pengeluaran ICT, regulasi pemerintah daerah, perekonomian, infrastruktur teknologi, kewirausahaan, ketenagakerjaan, sumber daya manusia, serta indeks inklusi keuangan.

“Data yang dikumpulkan dalam EV-DCI bukan ditujukan sebagai sebuah kesimpulan. Indeks ini adalah titik awal yang memulai fase berikut dari transformasi digital Indonesia. Kami ingin mendorong semua pemangku kepentingan untuk ikut terlibat dan turut menikmati dampak positif ekonomi digital,” kata Menurut Co-founder & Managing Partner East Ventures, Wilson Cuaca dalam siaran pers yang diterima banjartimes, pada Senin (13/4/2020).

Wilson menambahkan, dengan adanya indeks daya saing digital yang terukur, maka industri ekonomi digital juga berpotensi untuk dipetakan lebih jauh lagi. seperti tumbuhnya berbagai platform jual-beli online (e-commerce), transportasi online (ride hailling), jasa keuangan online (financial technology), hingga digitalisasi pariwisata (online travelling). Ini membuat ekosistem ekonomi digital Indonesia semakin beragam.

Adapun untuk dampak positif bagi tenaga kerja adalah perubahan pola penyerapan dan komposisi tenaga kerja. Dalam tiga tahun terakhir, porsi tenaga terampil dan profesional tercatat meningkat hampir di semua sektor lapangan usahayang terkait digital. Kondisi ini menunjukkan bahwa dengan kemajuan digital, persaingan di pasar kerja lebih kompetitif dan pekerja terampil dapat lebih unggul. Sektor Informasi dan Komunikasi yang menjadi tulangpunggung ekonomi digital mencatatkan peningkatan tertinggi dengan 15,8%.

“Industri digital adalah perekonomian yang berbasis penguasaan teknologi dan pengetahuan (knowledge basedeconomy), bukan bertumpu pada penguasaan aset. Ini membuka kesempatan yang sama bagi perusahaan- perusahaan rintisan untuk mengambil peran sentral dalam membangun ekonomi digital Indonesia bersama korporasi raksasa dan perusahaan multinasional,” kata Willson.

Dia menambahkan ekonomi digital Indonesia harus hadir dengan semangat inklusif. Para pengguna baru internet di Tanah Air tidak hanya merasakan perubahan gaya hidup, tetapi juga menikmati manfaat ekonominya.

Pedagang kecil yang membuka lapak di e-commerce, mitra pengemudi layanan on-demand, hingga pemilik warung yang menerima pembayaran listrik kini ikut berkontribusi menggerakan ekonomi Indonesia.

Dari data yang disajikan oleh EV-DCI, para pemangku kepentingan dan sektor publik dan sektor swasta bisa saling membandingkan tingkat pemanfaatan teknologi digital di wilayah masing-masing.

“Harapan kami, para pemimpin di tiap daerah semakin terpacu untuk berlomba menciptakan ekosistem yang terbaik bagi perkembangan ekonomi digital, baik lewat pembangunan infrastruktur, pengembangan talenta, maupun regulasi yang tepat,” tutup Willson. (mrz/dom)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *