Pasang Surut Kampung Buku Kenalkan Wadah Nongkrong Alternatif di Banjarmasin

Satu tahun bukanlah waktu yang mudah dilalui bagi sebuah wadah nongkrong kolektif bernama Kampung Buku. Dalam perjalanannya, para pengelola harus menghadapi tantangan seperti susahnya menggaet perhatian warga untuk berkunjung hingga ditinggal kolega usaha. Belum lagi, bisnis dengan balutan konsep literasi semacam ini masih menjadi barang baru di Kota Banjarmasin.

***

Hanya saja, Kampung Buku -atau kemudian disingkat Kambuk- sukses menempuh perjalanan sampai tahun pertamanya. Jum’at (10/7/2020) malam tadi, para pengelola bersama sejumlah pegiat seni dan sastra merayakan momen ulang tahun itu di area Kambuk yang beroperasi di Jalan Sultan Adam, Kota Banjarmasin.

Acara ini dikemas sederhana. Di bawah temaram lampu area Kambuk Banjarmasin, para pegiat seni dan sastra dipandu sastrawan YS Agus Suseno, saling berkumpul memberikan testimoni tentang perjalanan wadah ini. Sederet figur seperti Imam Bukhori, Sandi Firly, Sumasno Hadi, Noorhalis Majid dan Taufik Arbain datang dan membagikan ceritanya selama Kambuk berdiri.

Selain itu, penampilan seni pertunjukan musik dari Novyandi Saputra CS, pembacaan puisi, hingga pemutaran film juga menghiasi agenda satu tahun Kambuk Banjarmasin.

Founder Kambuk Banjarmasin, Hajriansyah, mengaku bersyukur ruang diskusi dan wadah jual beli buku ini bisa bertahan hingga sekarang. Setidaknya, keinginannya untuk menjadikan tempat ini sebagai ruang kebudayaan bisa tercapai perlahan.

Hajri mengaku roda usaha di Kambuk Banjarmasin memang sempat down dihantam Pandemi Covid-19. Tepatnya, untuk sejumlah kios buku dan kedai. “Ya benar, pasca pandemi Covid-19. Semangat itu sempat luntur, sebagian memilih mundur,” tutur anggota Dewan Sastra ASKS tersebut.

Namun, hantaman pandemi itu tak menyurutkan upaya Hajri dan pegiat Kambuk lainnya untuk meneruskan wadah ini. Hingga ujungnya, para pengelola membuka lagi operasional belakangan waktu terakhir. “Merekalah (para pegiat Kambuk) yang patut diapresiasi,” ujar Hajriansyah.

Ke depan, harapan Hajriansyah tak muluk-muluk. Ia cuma ingin menjadikan tempat ini bagi ruang semua orang untuk berkumpul. Selanjutnya, ia dan pengelola Kambuk lainnya masih berkeinginan meneruskan kelas-kelas lintas ilmu.

“Orang datang itu sudah syukur. Sudah hebat. Ada datang dari pengajian, para ustaz bahkan sekumpulan anak muda bermain gamers sekalipun, itu energi bagi Kambuk,” kata Hajri.

Di sisi lain, sastrawan YS Agus Suseno, menilai Kambuk Banjarmasin sebagai ruang alternatif bahkan oase bagi pegiat literasi. Sebab, selain jadi wadah diskusi, Kambuk juga memiliki harga buku yang standar dan relatif murah.

“Seperti buku-buku di Mall atau toko lainnya, masih standar terjangkau bahkan ada yang diskon murah,” ujarnya.

Nilai tambah lainnya, Agus memandang Kambuk memiliki akses yang berbeda dari tempat lazimnya kafe atau wadah berkumpul lainnya. Sebab, wadah ini dapat menghadirkan sosok penulis, seniman dan pegiat lokal lainnya, yang hadir nongkrong secara cuma-cuma di halayak umum.

“Maka hadirlah hamba-hamba kebudayaan ini. Pemilik kafe di luar itu, tak punya akses makhluk-makhluk ganjil seperti ini. Datanglah penulis, dan juga seniman,” ungkapnya.

“Aku berharapnya ya Kambuk tetap eksis dengan budaya literasinya, masyarakat dapat menikmatinya,” pungkas Agus. (Muhammad Rahim Arza)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *